Immovesting – Pasar saham Asia mengalami tekanan pada Jumat, 21 Februari 2025, setelah Jepang merilis data inflasi terbaru yang lebih tinggi dari perkiraan. Dampak Inflasi Jepang yang meningkat ini menimbulkan spekulasi mengenai kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ), sehingga memengaruhi pergerakan indeks utama di berbagai negara Asia.
Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat inflasi di Jepang untuk Januari 2025 mencapai 4%, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2023. Sementara itu, inflasi inti, yang tidak mencakup harga makanan segar, meningkat menjadi 3,2%, melebihi ekspektasi pasar sebesar 3,1%. Peningkatan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa BOJ dapat mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat.
Peningkatan inflasi ini juga menyebabkan apresiasi yen Jepang terhadap dolar AS. Yen mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir di 150,52 per dolar AS. Penguatan yen ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi eksportir Jepang karena dapat menurunkan daya saing mereka di pasar global. Hal ini memberikan tekanan tambahan terhadap indeks saham utama di Jepang dan kawasan Asia secara keseluruhan.
Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh data inflasi Jepang langsung tercermin dalam pergerakan indeks saham di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka turun 0,43%, sementara indeks Topix melemah 0,33%. Hal ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil langkah hati-hati dalam menghadapi kemungkinan perubahan kebijakan moneter oleh BOJ.
Kondisi serupa juga terjadi di Korea Selatan, di mana indeks Kospi mengalami penurunan sebesar 0,14%, sedangkan indeks Kosdaq melemah 0,12%. Sentimen negatif juga menjalar ke Australia, namun berbeda dengan negara Asia lainnya, indeks S&P/ASX 200 justru mengalami penguatan sebesar 0,18%. Hal ini menunjukkan bahwa investor di Australia masih optimistis terhadap prospek ekonomi domestik mereka.
“Baca Juga: USU Adakan Sosialisasi SNPMB untuk Guru dan Siswa Se-Sumut”
Pelemahan bursa Asia juga dipengaruhi oleh kondisi pasar saham Amerika Serikat, di mana tiga indeks utama mengalami koreksi setelah beberapa hari mencatatkan rekor tertinggi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,01% atau sebesar 450,94 poin menjadi 44.176,65. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,43% dan ditutup di level 6.117,52, serta Nasdaq Composite yang turun 0,47% menjadi 19.962,36.
Koreksi pasar di AS terjadi setelah Walmart merilis proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan, yang memicu kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global. Para investor tampaknya mulai berhati-hati terhadap kemungkinan perlambatan ekonomi dan dampaknya terhadap pertumbuhan bisnis di berbagai sektor.
Dengan inflasi yang terus meningkat, BOJ menghadapi tekanan untuk segera mengambil tindakan guna mengendalikan harga. Jika bank sentral Jepang benar-benar menaikkan suku bunga, hal ini bisa semakin memperkuat yen, yang dapat menambah tekanan bagi eksportir Jepang. Selain itu, suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi mengurangi likuiditas di pasar keuangan, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, investor global akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter Jepang serta data ekonomi lainnya yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar saham. Beberapa analis memperkirakan bahwa volatilitas di pasar Asia akan tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang, terutama menjelang pengumuman kebijakan moneter lebih lanjut dari BOJ.
Lonjakan inflasi di Jepang memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar saham Asia, dengan indeks utama mengalami tekanan akibat ketidakpastian kebijakan moneter BOJ. Penguatan yen juga turut berkontribusi terhadap pelemahan saham eksportir Jepang, yang akhirnya berdampak pada keseluruhan sentimen pasar. Sementara itu, pelemahan di pasar saham AS semakin memperburuk keadaan, dengan investor yang mulai mengantisipasi perlambatan ekonomi global.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan moneter Jepang serta dampaknya terhadap ekonomi global. Volatilitas masih akan tinggi, dan strategi investasi yang lebih berhati-hati menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian ini.