Immovesting – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan hari ini dengan tren negatif. Pada pembukaan, IHSG turun sebesar 8,21 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.865,34. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi kebijakan moneter yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung hari ini. Seiring berlangsungnya perdagangan, pelaku pasar terus mengamati pergerakan indeks dalam menanggapi sentimen global dan domestik.
Setelah dibuka di zona merah, IHSG menunjukkan pola pergerakan yang masih didominasi tekanan jual. Hingga siang hari, indeks mengalami penurunan lebih dalam, mencapai level 6.783, turun sekitar 1,3 persen. Pelemahan ini didorong oleh koreksi sejumlah saham unggulan, termasuk BBRI, BBCA, BMRI, TLKM, dan AMMN. Investor tampaknya masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih besar.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Fluktuasi harga komoditas, pergerakan nilai tukar rupiah, serta dinamika pasar modal internasional turut mempengaruhi sentimen investor di dalam negeri. Hal ini membuat para pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menata strategi investasinya.
“Baca Juga: 6 Metode Investasi Properti yang Aman & Amanah bagi Pemula”
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah kebijakan suku bunga yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia. Saat ini, inflasi masih dalam batas terkendali dan nilai tukar rupiah relatif stabil. Namun, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Keputusan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekonomi nasional, meskipun beberapa investor masih menanti kepastian sebelum melakukan langkah investasi lebih lanjut.
Selain itu, kebijakan moneter BI juga akan berdampak pada sektor perbankan dan keuangan. Jika suku bunga tetap atau mengalami penyesuaian, hal ini bisa mempengaruhi kinerja saham di sektor tersebut. Investor yang memiliki eksposur terhadap saham perbankan disarankan untuk mencermati reaksi pasar setelah pengumuman resmi BI.
Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, investor perlu cermat dalam memilih saham yang berpotensi memberikan hasil optimal. Sejumlah analis merekomendasikan beberapa saham yang dianggap memiliki prospek cerah, di antaranya PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Saham-saham ini dipilih berdasarkan fundamental yang kuat serta prospek pertumbuhan yang positif dalam jangka panjang.
Selain itu, investor disarankan untuk tetap melakukan diversifikasi portofolio guna meminimalkan risiko. Mengingat ketidakpastian yang masih tinggi, pendekatan investasi jangka panjang dengan fokus pada perusahaan yang memiliki fundamental baik dapat menjadi strategi yang lebih bijak dibandingkan spekulasi jangka pendek.
“Simak Juga: Saham Perbankan Serentak Menguat Setelah Kebijakan DHE 100% Diumumkan oleh Prabowo”
Menjelang akhir sesi perdagangan, IHSG masih berada dalam tekanan jual. Saham-saham berkapitalisasi besar terus mengalami koreksi, membuat indeks tetap bergerak di zona negatif. Selain itu, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global dan dinamika geopolitik juga turut memberikan dampak pada pergerakan pasar saham Indonesia.
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG hari ini mencerminkan sentimen hati-hati dari para pelaku pasar. Meskipun masih mengalami pelemahan, peluang pemulihan tetap terbuka seiring dengan perkembangan ekonomi domestik dan global. Investor disarankan untuk tetap waspada, mengikuti perkembangan kebijakan ekonomi, serta menerapkan strategi investasi yang sesuai dengan kondisi pasar saat ini.